Rabu, 15 Juni 2016

Tiga Orang yang Tak Diajak Allah Bicara


Ada 3 macam orang yang tidak diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat dan tidak pula dilihat olehNya
Tiga Orang yang Tak Diajak Allah Bicara
Ilustrasi

Rep: Admin Hidcom
 

عن أبي ذرٍّ رضي اللَّه عنه عن النبى صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « ثلاثةٌ لا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ القِيَامةِ ، ولا يَنْظُرُ إِلَيْهم ، وَلا يُزَكِّيهِمْ ، وَلهُمْ عَذَابٌ أَليمٌ » قال : فقَرأَها رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ثلاث مِرَارٍ . قال أَبو ذَرٍّ : خابُوا وخسِرُوا مَنْ هُمْ يا رسول اللَّه ؟ قال : « المُسبِلُ ، والمنَّانُ وَالمُنْفِقُ سِلْعَتَهُ بِالحَلفِ الكاذِبِ » رواه مسلم
Dari Abu Zar dari Rosulullah bersabda yang maksudnya;  “Ada tiga macam orang yang tidak diajak bicara oleh Allah – dengan pembicaraan keredhaan, tetapi dibicarai dengan nada kemarahan – pada hari kiamat dan tidak pula dilihat olehNya – dengan pandangan keredhaan dan kerahmatan, serta tidak pula disucikan olehNya -yakni dosa-dosanya tidak diampuni – dan mereka itu akan mendapatkan siksa yang menyakitkan sekali.” Katanya: Rasulullah membacakan kalimat di atas itu sampai tiga kali banyaknya.  
Abu Zar kemudian berkata: “Mereka itu merugi serta menyesal sekali. Siapakah mereka itu, ya Rasulullah?” Rasulullah bersabda: ” yaitu orang yang melemberehkan – pakaiannya sampai menyentuh tanah, orang yang mengundat-undat – yakni sehabis memberikan sesuatu seperti sedekah dan Iain-Iain lalu menyebut-nyebutkan kebaikannya pada orang yang diberi itu dengan maksud mengejek orang tadi – serta orang yang melakukan barangnya -maksudnya membuat barang dagangan menjadi laku atau terjual -dengan jalan bersumpah dusta – seperti mengatakan bahawa barangnya itu amat baik sekali atau tidak ada duanya lagi.” (Riwayat Muslim)
Editor:

Ampunan di Hari Jumat


Orang amalan sunnah di hari Jumat, diampunkan untuknya antara hari Jum'at yang dilakukan itu dengan hari Jum'at yang lainnya - yaitu hari Jum'at berikutnya
Ampunan di Hari Jumat














Rep: Admin Hidcom                                                                                                          عن  أبي عبدِ الله سَلْمان الفارِسي رضي الله عنه قال : قال رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم :« لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الجُمُعة وَيَتَطهّرُ ما اسْتَطاعَ منْ طُهر وَيدَّهنُ منْ دُهْنِهِ أوْ يَمسُّ مِنْ طيب بَيْته ثُمَّ يَخْرُجُ فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنينْ ثُمَّ يُصَلّي ما كُتِبَ له ُ ثُمَّ يُنْصِتُ إذَا تَكَلَّمَ الإمامُ إلا غُفِرَ لهُ ما بَيْنَهُ وَبَين الجمُعَةِ الأُخْرَى » رواه البخاري
“Dari Abu Abdillah iaitu Salman al-Farisi رضي الله عنه  berkata : Rasulullah صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم  bersabda yang maskudnya :  “Tidaklah seseorang itu mandi pada hari Jum’at dan ia bersucisekuasa yang dapat ia lakukan, juga berminyak dari minyaknya atau pun mengenakan sesuatu dari minyak harum yang ada di rumahnya, kemudian ia keluar – ke masjid, lalu ia tidak memisah-misahkan antara dua orang – yang sedang duduk, selanjutnya ia shalat apa yang ditentukan atasnya – yakni shalat sunnah tahiyyatul masjid – dan seterusnya iamendengarkan jikalau imam berbicara – atau berkhutbah, melainkan orang yang melakukan semua itu tentu diampunkan untuknya antara hari Jum’at yang dilakukan itu dengan hari Jum’at yang lainnya – iaitu hari Jum’at berikutnya.”*
Editor:

Saat Hari Pembalasan


Di Hari Pembalasan tidak ada pengawal, tidak ada barisan tentara, tidak ada perwira, dan tidak ada serdadu, atau pengawal republik.
Saat Hari Pembalasan (1)
Ilustrasi.

FIRMAN
 Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Yang Menguasai Hari Pembalasan.” (al-Fatihah: 4), merefleksikan berbagai persoalan, di antaranya sebagai berikut:
1. Runtuhnya para penguasa bumi
Pada hari perhitungan terbesar, para penguasa bumi akan berjatuhan. Abu Jahal pernah berkata, “Wahai Muhammad, engkau menakut-nakuti aku dengan Zabaniyyah? Aku pasti akan datang padanya bersama orang-orang Quraisy.”
Pada hari kiamat Abu Jahal bangkit dari kubur bersama orang-orang Quraisy.
Atas perkataan Abu Jahal itu, apakah jawaban Allah? Dia berfirman, “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendtri-sendiri.” (Maryam: 93-95).
Di sana tidak ada pengawal, tidak ada barisan tentara, tidak ada perwira, dan tidak ada serdadu, atau pengawal republik, dan seterusnya!
Barangkali ada yang berkata, “Saat terjadi huru-hara pada hari kiamat, mungkin kita bisa menyelamatkan diri.” Tetapi Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.” (Maryam: 94-95).
Dalam hadits disebutkan, ketika bumi dan langit telah berada dalam genggaman-Nya, Dia berfirman, “Milik siapakah kerajaan pada hari ini?” Tidak seorang penguasa pun atau nabi yang menjawab pertanyaan itu. Maka Allah menjawab dan berfirman, “Allah, Yang Mahaesa dan Maha Melaksanakan Kehendak-Nya.” Lalu berfirman, “Di manakah para penguasa bumi? Di manakah raja-raja dunia?” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, hadits ini derajatnya sahih).
Dalam hadits Asma’ binti Yazid, Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam bersabda, “Jika orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang terakhir dikumpulkan, Dia berseru, ‘Wahai manusia, sesungguhnya Aku telah menurunkan nasab, dan menurunkan nasab-nasab bagi kalian. Kalian telah mengangkat nasab-nasab kalian dan menurunkan nasab-Ku. Maka pada hari ini, Aku mengangkat nasab-Ku dan menurunkan nasab kalian.'” (HR. Hakim).
Kalian mengatakan, “Kami memuliakan Fulan bin Fulan.” Maka pada hari itu ketetapan ada pada Yang Mahaesa dan Maha Melaksanakan Kehendak-Nya. Dialah yang memberi keputusan, ‘alaihissalam –shirath milik-Nya, mizan adalah mizan-Nya, surga dan neraka milik-Nya, dan tidak ada yang menentang keputusan hukum Allah.
Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling takwa di antara kamu.” (al-Hujurat: 13).
Tabarakallah, Tuhan semesta alam.
Sungguh amat mengherankan bahwa di sana ada kaum yang menciptakan simbol dan julukan-julukan untuk mengagungkan manusia. Bandingkan dengan sikap Rasulullah, apa yang dilakukan oleh beliau?
Rasulullah menolak gemerlap dunia dan keindahannya dan menolak pengkultusan manusia.
Suatu ketika datang delegasi Amir bin Sha’sha’ah, mereka mengatakan, “Engkau adalah orang yang paling utama, dan paling agung kedudukannya di antara kami.”
Rasul menjawab, “Katakanlah semua pembicaraan kalian atau sebagian dari pembicaraan kalian, tetapi jangan sampai setan menyeret kalian. Sesungguhnya aku adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Katakan, ‘Hamba Allah dan Rasul-Nya’.” (HR Ahmad dan Abu Dawud).
Semoga shalawat dan salam terlimpahkan padanya! Semakin orang merendahkan diri, semakin melekat hati manusia padanya. Dan Allah menjadikannya manusia yang paling mulia dan paling utama.
Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan, “Nama yang paling rendah di hari kiamat adalah nama-nama semisal Shahin SyahQadhil Qudhat (penghulu para hakim), Sulthanush Shalathin(penghulu para raja), atau Rabbul Arbab (raja diraja). Sebab tiada raja yang sesungguhnya selain Allah, Dia-lah Qadhil Qudhat dan Hakim di antara para hakim.
Pada saat itu seluruh tanda kebesaran manusia di bumi berguguran, karena ia berasal dari tanah. Akan halnya pemberian dan karunia yang berasal dari Allah, ia akan kekal bagi pemiliknya

2. Harapan Kaum Tertindas dan Lemah
APAKAH dampak asma “Yang menguasai hari pembalasan” (al-Fatihah: 4) ini dalam perasaan seorang muslim? Jika seorang muslim memahami bahwa di sana akan ada hari pembalasan, hatinya rela dan pasrah, penderitaan dan luka batinnya akan terobati. Begitu pula kepiluan dan airmatanya.
Ia akan tabah menerima perlakuan sewenang-wenang dan kekurangan yang dideritanya selama hidup di dunia. Hak asasi sebagai manusia, kehormatan diri sebagai orang beriman, serta kebebasan diri dalam berpendapat dan berbicara, barangkali tidak dapat dinikmatinya di dunia. Tetapi di hari perhitungan kelak, dia akan mendapatkan keadilan.
Penyair Abul ‘Atahiyah berkata kepada al-Mahdi, setelah ia memenjarakannya.
Demi Allah, aku bersumpah. Kezaliman itu menyakitkan
Orang yang jahat akan terus menjadi pelaku kezaliman
Kepada Sang Penguasa di hari kiamat kita mengadu dan di hadapan Allah para musuh terhimpun
Sesungguhnya Allah yang akan memberi keadilan para wali dan orang-orang yang dikasihi-Nya

3. Tamatnya Drama Kehidupan
FILOSOF Jerman, Emanuel Kant –pembangun teori eksistensialisme– mengatakan bahwa alam semesta ini adalah panggung sandiwara. Episode pertamanya adalah dunia dan episode berikutnya adalah apa yang akan datang sesudah itu.
Pasti akan terjadi episode kedua. Sementara kita menyaksikan pada episode pertama ada penindas dan ada yang ditindas. Mengapa pada episode ini orang yang tertindas tidak mendapat keadilan? Lalu kapan?
Harus ada episode kedua yang memberi keadilan pada orang yang dizalimi.
Al-Mughirah bin Syu’bah telah mendahului Kant dalam teori eksistensialisme itu. Al-Mughirah berkata, “Ketika aku menyaksikan manusia-manusia mati dan musnah, maka aku memahami bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala pasti akan membangkitkan mereka kembali pada hari yang lain untuk memberikan keadilan pada mereka. Inilah yang menjadi alasan bagiku untuk beragama dan memeluk Islam.”
Al-Mughirah menjadi muslim, tetapi Kant kafir. Segolongan di surga dan golongan lain di neraka.
Wahai orang yang dizalimi, wahai orang yang tertimpa kemalangan, wahai yang menangis, yang tersakiti dan terluka, nantikanlah “Yang menguasai hari pembalasan.” (al-Fatihah: 4).
‘Umar bin Khaththab berkata, “Demi Allah, jika di sana tidak ada hari akhir, niscaya engkau tidak pernah melihat apa yang kau saksikan ini.” Tidak akan ada orang kuat yang menindas kaum lemah, kesewenangan, pelanggaran kehormatan manusia, dan perampasan hak hidup. Tetapi akan datang hari akhir, itulah saat perjumpaan kita, “(yaitu) di hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati bersih.” (asy-Syu’ara’: 88-89).*/DR. ‘Aidh bin ‘Abdullah al-Qarni, MA, tertuang dalam bukunyaNikmatnya Hidangan Al-Qur’an.
Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan

Majelis yang Diampuni


                                                                                                                                                                    Barangsiapa yang duduk di dalam suatu majlis, lalu mengucapkan doa ini, pasti diampunkan untuknya apa-apa -yakni dosa - yang diperolehinya dari majlis tersebut
Majelis yang Diampuni
ilustrasi

Rep: Admin Hidcom
 

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « مَنْ جَلَسَ في مَجْلس فَكثُرَ فيهِ لَغطُهُ فقال قَبْلَ أنْ يَقُومَ منْ مجلْسه ذلك : سبْحانَك اللَّهُمّ وبحَمْدكَ أشْهدُ أنْ لا إله إلا أنْت أسْتغْفِركَ وَأتَوبُ إليْك : إلا غُفِرَ لَهُ ماَ كان َ في مجلسه ذلكَ »
رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح .
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه  berkata : “Rasulullah صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم  bersabda yang maksudnya :”Barangsiapa yang duduk di dalam suatu majlis, lalu banyak senda guraunya yang tidak bermanfaat dalam majlis tadi, lalu ia mengucapkan sebelum berdiri meninggalkan majlis itu, demikian -yang artinya: “Maha Suci Engkau, ya Allah dan saya mengucapkan puji-pujian padaMu. Saya menyaksikan bahawasanya tiada Tuhan melainkan Engkau, saya mohon ampun serta bertaubat padaMu, melainkan orang tersebut pasti diampunkan untuknya apa-apa -yakni dosa – yang diperolehinya dari majlis yang sedemikian tadi.”*

Editor:

Nasihat Salaf dalam Menjaga Waktu

SEORANG hamba saleh Hamdun bin Ahmad rahimahullahditanya, “Mengapa ucapan salaf lebih berguna daripada ucapan kita?” Dia menjawab, “Karena mereka berbicara untuk kemuliaan Islam, keselamatan jiwa dan ridha Ar-Rahman. Sementara kita berbicara untuk kemuliaan diri sendiri, mencari dunia dan ridha manusia.”
Salafus saleh telah menyadari mahalnya waktu dan berharganya usia, maka mereka berlomba-lomba mengisinya dengan ketaatan. Mereka mendorong dan memberi nasihat kepada saudara-saudara mereka kaum muslimin, semata-mata sebagai wujud pelaksanaan terhadap kewajiban nasihat kepada kaum muslimin secara umum dan khusus. Maka nasihat-nasihat mereka diliputi kebenaran dan keikhlasan, didasari oleh keinginan terhadap kebaikan bagi orang lain.
Marilah kita sama-sama menelaah sebagian kata-kata indah dan nasihat-nasihat emas mereka:
Dari Abdullah bin Abdul Malik rahimahullah, ia berkata, “Kami berada di rombongan bapak kami. Dia berkata kepada kami, ‘Bertasbihlah hingga kalian sampai di pohon itu.’ Maka kami bertasbih sehingga kami mendatanginya. Apabila pohon lain telah nampak kepada kami dia berkata, ‘Bertakbirlah hingga kalian mendatangi pohon itu.’ Abdullah berkata, “Begitulah yang dia lakukan kepada kami.”
Beginilah semestinya pendidikan kepada anak.
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Hai bani Adam, engkau hanyalah hari-hari. Setiap satu hari pergi, pergi pula sebagian (umur)mu.”
Renungkanlah bagaimana Al-Hasan mengatakannya dengan ‘hari-hari’, bukan ‘bulan-bulan’ atau ‘tahun-tahun’. Untuk mengingatkan kita bahwa umur itu pendek dan cepat berlalu.
Ibnul Jauzi memberi nasihat kepada anaknya, “Hai anakku, ketahuilah bahwa hari-hari membentangkan kesempatan-kesempatan. Kesempatan membentangkan hembusan-hembusan nafas. Setiap hembusan nafas adalah laci simpanan, maka jagalah agar hembusan nafasmu tidak berlalu tanpa apapun (tanpa faedah). Maka pada hari Kiamat engkau mendapati lacimu kosong, engkau pun menyesal.
Dan lihatlah kesempatan yang engkau miliki, dengan apa ia pergi? Jangan biarkan ia pergi, kecuali dengan sesuatu yang paling berharga. Jangan lalaikan dirimu. Biasakanlah ia terhadap amal yang paling mulia dan paling baik. Kirimkan ke peti kuburmu sesuatu yang membahagiakanmu pada hari engkau sampai di sana.”
Alangkah indahnya kata-kata ini. Andai saja setiap pribadi menjadikannya sebagai nasihat bagi keluarga, anak-anak, dan teman-temannya.
Dengarkanlah suara Imam Syu’bah bin Al-Hajjaj rahimahullah yang berkata, “Janganlah Anda duduk dengan hampa karena maut mencarimu.”
Ahmad bin Khalaf Al-Andalusi, seorang penyair yang penuh gelora semangat, mendorong kita menjaga waktu. Dia berkata,
“Apabila aku mengetahui dengan yakin bahwa seluruh hidup seperti sesaat
Mengapa aku tidak memanfaatkannya dengan baik dan menjadikannya untuk taat kepada Tuhanku.”
Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata, “Sesungguhnya siang dan malam bekerja padamu maka beramallah Anda padanya.” Benar siang dan malam mengurangi umurmu dan mendekatkan ajalmu, maka beramallah untuk kebajikan siang dan malammu!
Seorang sahabat mulia, Abdullah bin Mas’ud berucap, “Aku tidak pernah menyesali sesuatu melebihi penyesalanku terhadap satu hari yang mataharinya telah terbenam, umurku berkurang tapi amal kebaikanku tidak bertambah.” Benar, inilah kerugian hakiki yang tidak mungkin tergantikan untuk selama-lamanya. Adapun kerugian lain, maka untuk menggantikannya adalah mudah dan gampang. Bisakah kita mengambil pelajaran?

DENGARKANLAH Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengetuk hatimu, “Tidak ada satu hari yang melewati bani Adam kecuali ia berkata, ‘Hai bani Adam saya adalah hari baru, sebagai saksi atas amalmu. Apabila saya pergi darimu, saya tidak bisa kembali kepadamu. Maka siapkanlah apa yang Anda inginkan (ketaatan), niscaya Anda akan mendapatkannya di hadapanmu (di alam kubur dan di hari Kiamat). Dan tundalah apa yang Anda inginkan, karena ia tidak akan kembali kepadamu untuk selama-lamanya (Anda tidak bisa mengganti waktu-waktu Anda yang hilang)’.”
Rabiah berkata kepada Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah, “Anda hanyalah hari-hari yang berbilang. Apabila satu hari pergi, pergi pula sebagian dirimu. Apabila sebagian telah pergi, maka seluruhnya juga pergi. Anda telah mengetahui, maka beramallah!”
Alangkah sedihnya bila waktu pergi bukan dalam ketaatan kepada Allah. Betapa mirisnya hati atas kesempatan-kesempatan yang hanya digunakan untuk pembicaraan dan perbuatan yang tidak berguna.
Al-Mawardi rahimahullah berkata, “Umur setiap manusia mengalir ke satu titik, yang di situlah masa ajalnya habis dan buku catatan amalnya ditutup. Maka ambillah dari dirimu untuk dirimu. Lihatlah hari ini dengan cermin hari kemarin. Hentikanlah kejahatanmu. Tingkatkan kebaikanmu sebelum masa ajalmu habis dan engkau tidak mampu lagi meningkatkan usaha dan amalmu.”
Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Saya bertemu orang-orang sufi. Saya tidak mengambil manfaat, kecuali dua kata. Pertama: Waktu seperti pedang. Apabila Anda tidak memenggalnya (memanfaatkannya), maka ia yang akan memenggalmu Kedua: Apabila Anda tidak menyibukkan dirimu dalam kebenaran, maka ia akan menyibukkanmu dalam kebatilan.”
Benar, waktu tidak berdiri menjauh (menghindar). Waktu bisa menjadi nikmat untukmu, atau kesengsaraan atasmu.
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Hai bani Adam, siang harimu adalah tamumu, maka perlakukan ia dengan baik (yakni, dengan memanfaatkannya untuk kebaikan). Karena apabila Anda memperlakukannya dengan baik, niscaya ia pulang dengan memujimu. Dan apabila Anda memperlakukannya dengan buruk (dengan menggunakannya untuk hal-hal haram atau tidak berfaedah), niscaya ia akan berpamitan dengan mencelamu. Begitu pula malam harimu.”
Al-Ashmu’i berkata, ‘Suatu pagi saya pergi mengunjungi salah seorang kawan. Saya bertemu dengan Abu Amru bin Al-Ala’. Dia bertanya kepadaku, ‘Hendak ke mana?’ Saya menjawab, ‘Mengunjungi teman.’ Dia berkata, ‘Lakukan apabila untuk faedah (yakni, mengkaji ilmu atau mengambil manfaat darinya), atau meja makan (yakni menghadiri walimah di mana Anda diundang), atau untuk menjenguk (yakni menjenguk orang sakit). Kalau bukan maka jangan. (Maksudnya apabila kunjunganmu dengan keperluan salah satu di antara tiga di atas maka alangkah indah dan mulianya. Tetapi apabila demi hal-hal yang tidak berguna dan ucapan-ucapan tidak bermanfaat, maka tinggalkanlah)

PARA salafus saleh mengingkari orang-orang yang membuang-buang waktu dan memacu mereka untuk memanfaatkan umur mereka. Di antaranya adalah Syuraih Al-Qadli rahimahullahyang melewati sekelompok orang yang bermain-main, berbuat iseng, dan berbicara tanpa manfaat.
Dia bertanya kepada mereka, “Ada apa dengan kalian?” Mereka menjawab, “Kami sedang menikmati waktu luang.” (Yakni, kami memiliki waktu luang, maka kami menggunakannya untuk ngobrol dan bermain-main). Dia berkata, “Apakah orang yang mempunyai waktu luang diperintahkan begini?” (Yakni, apakah diperintahkan untuk main-main dan ngobrol?) Kemudian dia membaca firman Allah, “Apabila Anda telah selesai dari suatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya Anda berharap.” (Alam Nasyrah: 7-8).
Arti dari kedua ayat ini: Apabila Anda memiliki waktu luang, maka bersungguh-sungguh dan berpayah-payahlah dalam ketaatan kepada Tuhanmu serta ikhlaskanlah amalmu hanya untuk-Nya. Alangkah mulianya pemahaman terhadap Kalamullah seperti ini. Begitulah Al-Qur’an, selalu mengiringi kita dalam segala segi kehidupan kita.
Abu Ja’far As-Samak mendatangi As-Sari As-Saqti rahimahullah. Dia melihat beberapa orang pemalas dan penganggur sedang berbincang-bincang dalam perkara yang tidak berguna bersama As-Sari. Abu Ja’far menolak duduk dan berkata, “Hai Sari, engkau telah menjadikan dirimu sebagai tumpangan bagi para pemalas.” Dia lalu pulang tanpa duduk dan membenci keberadaan mereka di sisi As-Sari.”
Begitulah orang-orang saleh sebelum kita. Kalau sekarang, orang yang menjaga waktunya menjadi sesuatu yang langka.
Ingatlah Perdana Menteri Ibnu Hubairah ketika dia menggambarkan keadaan kita dan sikap kita yang meremehkan waktu dengan ucapannya,
“Waktu adalah barang termahal yang harus engkau jaga dengan penuh perhatian
Dan saya melihat bahwa ia adalah barang termudah yang lenyap darimu.”
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Dunia hanyalah tiga hari; Kemarin yang telah berlalu; esok yang bisa jadi engkau tidak mendapatkannya; dan hari ini, yang inilah bagianmu. Maka berkaryalah.”
As-Sari bin Al-Mughallas rahimahullah berkata, “Apabila Anda bersedih karena hartamu yang berkurang maka menangislah lantaran umurmu pun berkurang.” Alangkah indahnya, apabila kita menjaga waktu kita seperti halnya kita menjaga harta kekayaan kita. */Abul Qa’qa’ Muhammad bin Shalih, dari bukunya 125 Kiat Salaf Menjaga Waktu Produktif.
Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan

Pemberian Allah lebih Besar dari Pengorbanan Manusia


Jika Seseorang mendatangi ALlah dengan berjalan maka Allah akan mendatanginya dengan berlari
Pemberian Allah lebih Besar dari Pengorbanan Manusia
Sesungguhnya Allah itu tergantung prasangka hambanya

Rep: Admin Hidcom
Dalam sebuah hadits Qudsy riwayat Abu Dzar Allah Subhanahu Wata’ala berfirman;
مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَأَزِيدُ وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَجَزَاؤُهُ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا أَوْ أَغْفِرُ وَمَنْ تَقَرَّبَ مِنِّي شِبْرًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ ذِرَاعًا وَمَنْ تَقَرَّبَ مِنِّي ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا وَمَنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً وَمَنْ لَقِيَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطِيئَةً لَا يُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَقِيتُهُ بِمِثْلِهَا مَغْفِرَةً
“Barangsiapa berbuat kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan yang semisalnya dan terkadang Aku tambahkan lagi. Dan Barangsiapa yang berbuat keburukan, maka balasannya adalah keburukan yang serupa atau Aku mengampuninya. Barangsiapa mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepada-Nya satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa, danjika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari. Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.” [HR. Muslim]
Editor: Cholis Akbar

Bahaya Meninggalkan Muhasabah


Seseorang yang melambatkan diri melakukan muhasabah, akan mudah baginya terjerumus pada dosa.
Bahaya Meninggalkan Muhasabah (1)














YANG paling berbahaya bagi suatu pekerjaan adalah meremehkan, meninggalkan muhasabah, melepaskan begitu saja, dan menggampangkan persoalan. Sebab hal-hal itu akan menghantarkan pada kehancuran. Dan itulah keadaan orang-orang yang terperdaya, menutup mata dari segala akibat, menantang keadaan, dan bersandar hanya pada ampunan.
Ia melambatkan diri melakukan muhasabah dan melihat akibat yang bakal ia derita. Sungguh jika seseorang bersikap demikian, maka akan mudah baginya terjerumus pada dosa. Ia akan senang bergumul dengannya, bahkan akan sulit berpisah dengannya. Seandainya saja ia mengikuti kebenaran, niscaya ia akan tahu bahwa penjagaan nafsu lebih mudah daripada meliarkannya.
Untuk itu hendaknya ia menghisab dirinya pertama kali dalam hal-hal yang wajib. Jika ia ingat ada yang ditinggalkan maka ia harus menyusulnya, baik dengan qadha’ atau dengan perbaikan. Selanjutnya, hendaknya ia menghisab dirinya dalam hal-hal yang dilarang. Jika ia mengetahui ada sesuatu yang ia langgar maka hendaknya ia segera menyusulnya dengan taubat, istighfar dan berbagai kebaikan yang menghapus dosa. Kemudian hendaknya ia menghisab atas kelalaian dirinya.
Jika ia lengah tentang untuk apa ia diciptakan maka hendaknya ia menyusulnya dengan dzikir dan menghadap kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Lalu hendaknya ia menghisab apa yang telah ia bicarakan, atau ke mana kakinya melangkah, atau apa yang diambil oleh kedua tangannya, atau apa yang didengar oleh kedua telinganya, untuk apa ia lakukan semua itu, dan untuk siapa? Dan atas dasar apa yang ia lakukan semua itu?
Pertanyaan yang pertama adalah tentang ikhlas, sedang yang kedua tentang mutaba’ah (mengikuti Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam).
Allah berfirman, “Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang mereka kerjakan dahulu.” (Al-Hijr: 92-93).
Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) rasul-rasul (Kami) maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat) sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka).” (Al-A’raf: 6-7).
Agar Dia menanyakan kepada orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka.” (Al-Ahzab: 8).
Jika orang-orang yang benar ditanya dan dihisab atas kebenaran mereka, maka bagaimana pula dengan orang-orang pendusta? Muqatil berkata, “Allah Ta’ala berfirman, “Kami telah mengambil perjanjian dengan mereka, agar Allah menanyakan kepada orang-orang yang benar yakni para nabi tentang penyampaian risalah (yang dibebankan kepada mereka)’.”
Mujahid berkata, “Allah bertanya kepada orang-orang yang terhadap mereka dakwah rasul disampaikan, apakah mereka melaksanakan ajaran rasul itu? Sebagaimana Allah juga bertanya kepada para rasul apakah mereka menyampaikannya sebagaimana yang diwahyukan Allah?”
Yang jelas, ayat di atas meliputi semua pengertian yang disebutkan. Orang-orang yang benar adalah para rasul serta mereka yang kepadanya dakwah disampaikan. Kepada rasul ditanyakan tentang tabligh (penyampaian dakwah), sedang kepada orang-orang yang kepadanya dakwah disampaikan, ditanyakan tentang apa yang disampaikan oleh para rasul kepada mereka.
Kemudian orang-orang yang telah sampai kepadanya dakwah, ditanyakan tentang jawaban apa yang mereka berikan kepada para rasul, sebagaimana firman Allah,
Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka seraya berkata, ‘Apakah jawabanmu kepada para rasul?’.” (Al-Qashash: 65).
Manusia kelak akan ditanya dan dihisab tentang segala sesuatu, bahkan hingga atas pendengaran, penglihatan, dan hatinya, sebagaimana firman Allah,
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Al-Israa’: 36).
Maka kita mesti menghisab diri sebelum hisab itu datang kepada kita.
Adapun ayat yang menunjukkan wajibnya melakukan muhasabah terhadap diri adalah firman Allah,
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (Al-Hasyr: 18).
Di sini Allah menegaskan, hendaknya setiap diri memperhatikan amal-amal apa yang telah ia persiapkan untuk Hari Kiamat, apakah amal-amal baik yang bisa menyelamatkan dirinya atau amal-amal buruk yang bisa membinasakannya.
Qatadah berkata, “Tuhanmu masih senantiasa mendekatkan Hari Kiamat, sehingga Dia menjadikannya seakan-akan terjadi besok.” Maksudnya, kebaikan hati adalah dengan mengadakan muhasabah diri, sedang rusaknya hati adalah dengan meremehkannya serta melepaskan nafsu begitu saja

MUHASABAH diri mendatangkan banyak manfaat, di antaranya bisa mengetahui aib diri sendiri. Orang yang tidak mengetahui aib dirinya dia tak akan mampu menghilangkannya. Tetapi jika dia mengetahui aib dirinya, maka ia akan membencinya karena Allah.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Darda’ Radhiyallahu Anhu, “Tidaklah seseorang memiliki pemahaman yang dalam sampai ia membenci manusia karena Allah, kemudian ia kembali kepada dirinya sendiri, lalu ia lebih membenci terhadap dirinya.”
Mutharrif bin Abdillah berkata, “Seandainya manusia itu tidak lebih mengetahui tentang diriku, niscaya aku jauhi mereka.”
Ayub As-Sakhtiyani berkata, “Jika orang-orang shalih disebut maka aku adalah orang yang terasing.”
Ketika Sufyan Ats-Tsauri dalam sakaratul maut, Abul Asyhab dan Hammad bin Salamah masuk kepadanya. Hammad berkata kepada Sufyan, “Wahai Abu Abdillah, bukankah engkau sudah merasa aman dari sesuatu yang engkau takuti? Dan engkau telah melakukan apa yang engkau harapkan, sedangkan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.”
Sufyan menjawab, “Wahai Abu Salamah, apakah engkau mengharapkan orang seperti aku ini bisa selamat dari neraka?” Ia menjawab, “Ya, demi Allah, sungguh aku mengharapkanmu demikian.”
Yunus bin Ubaid berkata, “Sesungguhnya aku mendapatkan seratus ciri kebaikan, aku tidak tahu apakah dalam diriku terdapat satu daripadanya.”
Muhammad bin Wasi’ berkata, “Seandainya dosa memiliki aroma, tentu tak seorang pun yang kuat duduk bersamaku.”
Pernah suatu ketika Daud Ath-Tha’i diceritakan di hadapan sebagian para raja, sehingga mereka pun memujinya, maka ia berkata, “Seandainya manusia mengetahui sebagian apa yang ada pada kami, tentu tak sepatah pun lisan yang menyebutkan kebaikan kami selamanya.”
Abu Hafsh berkata, “Siapa yang tidak berprasangka buruk kepada nafsunya sepanjang waktu, tidak menyelisihinya dalam setiap keadaan, serta tidak menyeretnya pada apa yang dibencinya sepanjang waktunya, maka orang itu telah terperdaya. Dan siapa yang melihat kepada nafsunya dan menganggap baik sesuatu daripadanya maka sesuatu itu telah menghancurkannya.”
Nafsu senantiasa mengajak pada kehancuran, membantu para musuh, menginginkan setiap keburukan, mengikuti setiap yang jahat, dan secara tabiat ia senantiasa menyelisihi (kebaikan). Maka nikmat yang tak terbayangkan besarnya adalah keluar dari belenggu nafsu itu serta melepaskan diri dari perbudakannya. Sebab nafsu adalah pembatas antara hamba dengan Allah. Dan orang yang paling mengetahui tentang nafsu adalah orang yang paling menjauh dan paling benci padanya.
Dan kebencian terhadap nafsu karena Allah adalah di antara sifat orang-orang yang benar. Dan dengan kebencian sekejap saja terhadap nafsu itu seseorang menjadi dekat kepada Allah Ta’ala, bahkan berlipat-lipat dari kedekatan karena beramal.
Termasuk manfaat muhasabah diri, yaitu dengan muhasabah ia menjadi tahu hak Allah Ta’ala. Dan siapa yang tidak mengetahui hak Allah atas dirinya, maka ibadahnya kepada-Nya hampir tak bermanfaat sama sekali. Ibadahnya sungguh sangat sedikit sekali manfaatnya.
Dan sesuatu yang termasuk paling bermanfaat bagi hati adalah merenungkan hak Allah atas hamba-Nya. Karena hal itu akan mengakibatkan kebenciannya terhadap nafsunya, ia akan menjauhkan diri daripadanya, ia akan membersihkan diri dari ujub (bangga diri) dan riya’. Sebaliknya hal itu akan membukakan untuknya pintu rendah diri, kehinaan, dan ketidakberdayaan di hadapan Tuhan. Ia akan menyesalkan nafsunya, dan bahwa keselamatan tak akan ia dapatkan kecuali dengan ampunan, maghfirah, dan rahmat Allah. Dan sungguh di antara hak-hak Allah adalah, Dia wajib ditaati dan tidak diingkari, Ia wajib diingat tidak boleh dilupakan, wajib disyukuri dan tidak boleh dikufuri.
Siapa yang merenungkan hak-hak ini niscaya ia mengetahui dengan seyakin-yakinnya bahwa dia tidak mampu melakukannya sebagaimana mestinya. Dan bahwa tak ada lagi yang diharapkannya selain ampunan dan maghfirah Tuhannya, dan seandainya ia ditimbang sesuai dengan amalnya maka ia akan binasa.
Inilah yang menjadi perenungan para ahli makrifat (yang mengetahui) Allah Ta’ala dan diri mereka sendiri. Dan ini pula yang menjadikan mereka menyesalkan dirinya dan menggantungkan semua harapan mereka kepada ampunan dan rahmat Tuhannya.
Jika Anda melihat kondisi sebagian besar manusia, tentu keadaan mereka adalah kebalikannya. Mereka mempertanyakan hak mereka atas Allah, dan tidak mempedulikan hak Allah atas mereka. Dan dari sini kemudian mereka terputus dari Allah, dan hati mereka menjadi tertutup dari mengetahui, mencintai dan merindui pertemuan dengan-Nya, juga tidak bisa menikmati dzikir kepada-Nya. Dan yang demikian itu adalah puncak kebodohan manusia terhadap Tuhan dan dirinya.
Karena itu muhasabah diri adalah melihat hamba terhadap hak Allah atas dirinya. Selanjutnya ia melihat apakah dirinya telah mewujudkan hak tersebut? Dan itulah sebaik-baik perenungan. Karena ia akan menghantarkan hati kepada Allah serta melemparkannya di hadapan-Nya sebagai seorang yang rendah dan nista. Tetapi dengannya, ia mendapatkan penawarnya, menjadikannya sebagai seorang yang fakir dan papa tetapi dengan itulah kekayaannya, menjadikannya hina tetapi dengan itulah kemuliaannya.*/Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, tertuang dalam bukunya Manajemen Kalbu-Melumpuhkan Senjata Syetan.
Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan
.