Rabu, 15 Juni 2016

Jangan Menjadi Penggunjing


Menggunjing akan menimbulkan keretakan dalam masyarakat dan menanamkan sifat hasad, permusuhan, menimbulkan perpecahan dan perseteruan.
Jangan Menjadi Penggunjing
Ilustrasi.

Rep: Admin Hidcom
SUKA
 membicarakan aib orang akan menumbuhkan sikap permusuhan, mendatangkan penyakit hati dan lisan, dan penyakit tubuh. Orang yang suka menggunjing akan hidup terombang-ambing. Dia tidak tahu apa yang harus dikerjakan dan bagaimana dia menutupi aibnya sendiri.
Ini jika orang yang digunjing tidak mendengar perkataannya. Bagaimana jadinya jika dia mengetahui? Tentu akan menimbulkan keretakan dalam masyarakat dan menanamkan sifat hasad, permusuhan, menimbulkan perpecahan dan perseteruan.
Pada akhirnya orang yang menggunjing hanya akan mendapatkan celaan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan dari manusia. Dia tidak akan dipercaya oleh siapa pun. Sifat yang muncul dari dalam dirinya pun akhirnya sama dengan apa yang ia gunjingkan. “Siapa pun yang Anda bicarakan, dia juga akan membicarakan Anda.”
Oleh karena itu, semua orang akan menjauhi dirinya karena takut disakiti dan untuk menjaga kehormatannya dari sikap buruk lisannya. Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alahi Wasallam telah memperingatkan penyakit akut ini. Suatu ketika beliau bertanya kepada para sahabatnya:
“Apakah kalian mengetahui apa itu ghibah?” Mereka mengatakan, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’ Rasulullah bersabda, “Yakni kalian mengungkapkan keburukan saudara Anda.” Salah seorang sahabat bertanya, ‘Bagaimana jika yang kami katakan memang ada pada dirinya?’ Rasulullah bersabda, “Jika apa yang kalian katakan ada pada dirinya, berarti kalian telah melakukan ghibah. Sementara jika apa yang kalian katakan tidak ada pada dirinya, maka kalian telah berbohong.” (Riwayat Muslim).
Demikianlah, pada dasarnya tidak diperbolehkan membicarakan kejelekan orang lain. Jika Anda melakukan tindakan seperti itu, berarti Anda juga seperti dia. Anda telah kehilangan kewibawaan Anda. Anda termasuk orang-orang yang melakukan perbuatan dosa.
Selain ghibah, dan bahkan lebih berbahaya dari ghibah adalah namimah, yaitu mereka yang selalu saja menggunjing orang lain di mana pun dia berada. Dia berbohong kepada orang lain dan selalu berkata dusta agar terjadi percekcokan dan perseteruan dalam masyarakat.
Abdullah bin Mas’ud r.a berkata, “Sesungguhnya Nabi Muhammad bersabda: Apakah kalian mau aku beritahu tentang pembohong? Yaitu orang yang selalu menggunjing orang lain di masyarakat.’ Nabi Muhammad juga bersabda, ‘Sesungguhnya seseorang selalu berkata jujur sehingga ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur, dan seseorang selalu berbohong sehingga ditulis di sisi Allah sebagai pembohong’.” (Muslim).
Selain mereka yang suka ghibah dan namimah, juga ada orang yang suka mengadu domba. Dalam bahasa sekarang bisa disebut dengan “pembisik” yang menjadi mata-mata bagi orang lain. Dia menjadi orang terlaknat yang dibenci oleh makhluk dan Khalik.
Rasulullah bersabda:
“Orang yang suka mengadu domba tidak akan masuk surga.” (Muslim).
Salah satu yang termasuk seperti tiga golongan tadi adalah orang yang bermuka dua. Persis seperti orang munafik yang hanya mencari maslahat pribadinya saja.
Dia adalah golongan orang yang paling jahat. Dia sangat berbahaya. Dia bisa dianggap orang yang tidak beriman.
Abu Hurairah r.a menuturkan bahwa Rasulullah bersabda: “Kalian akan menemukan berbagai macam manusia. Manusia terbaik pada masa jahiliyah adalah terbaik ketika masa Islam jika mereka mendalami agama. Kalian akan mengetahui bahwa orang terbaik dalam masalah ini adalah orang yang dahulunya dibenci. Anda akan mengetahui bahwa orang terburuk adalah mereka yang bermuka dua. Dia mendatangi suatu golongan dengan mengatakan sesuatu, dan mendatangi golongan lain dengan mengatakan sesuatu yang berbeda.” (Muslim).*/Amir Syammakh, dari bukunya Menjadi Pribadi Penuh Cinta.
Editor: Syaiful Irwan

Dua Kalimat Ringan Tapi Sangat Dicintai Allah dan Berat Pada Timbangan


Oleh: Badrul Tamam
سُبْحَانَ اللَّهِ وبِحَمْدِهِ - سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ
Subhaanallaahi Wa Bihamdihi Subhaanallaahil 'Adzim
"Maha Suci Allah dan segala puji untuk-Nya, Maha Suci Allah Yang Maha Agung."

Sumber Zikir
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ : سُبْحَانَ اللَّهِ ، وبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ
"Dua kalimat yang ringan diucapkan lisan, berat ditimbangan, dan dicintai oleh Al-Rahman (Allah): Subhaanallaahi Wa Bihamdihi Subhaanallaahil 'Adzim." (HR. Muttafaq 'Alaih)
Keterangan
Tiga sifat yang disematkan pada zikir di atas. Pertama, disifati dengan "Ringan diucapkan lisan" karena ia mudah dan tidak berat. Sangat ringan diucapkan oleh lisan karena sedikitnya jumlah hurufnya. Huruf-hurufnya juga terdiri dari huruf-huruf yang memiliki tempat keluar yang mudah. Tidak ada huruf yang berat diucapkan. Sehingga ringan diucapkan.
Kedua, disifati dengan "berat ditimbangan", yakni benar-benar berat saat ditimbang di akhirat karena banyaknya pahala yang diberikan kepada orang yang mengucapkannya. Nilai kebaikannya dilipatgandakan bagi yang mau menzikirkannya.
Ketiga, disifati dengan "sangat dicintai oleh Al-Rahman", yakni kedua kalimat zikir tersebut sangat dicintai oleh Allah. Tentunya, orang yang mengucapkannya juga dicintai oleh-Nya. Berarti dua kalimat zikir ini merupakan salah satu sebab turunnya cinta Allah kepada hamba.
Dipilihnya nama Allah "Al-Rahman"  menunjukkan, bahwa hadits ini menerangkan luasnya rahmat Allah kepada hamba-Nya. Dia membalas amal yang sedikit dengan pahala yang besar.
Makna Subhaanallaahi Wa Bihamdihi: Menyucikan Allah Ta'ala dari semua yang tidak pantas untuk-Nya, seperti aib dan kekurangan. Berkonsekuensi, meniadakan sekutu (pathner), pasangan hidup, anak dan semua yang tidak layak disandarkan kepada Allah 'Azza wa Jalla. Bahwa Dia Maha sempurna dari semua sisi.
Digandengkannya tasbih dengan pujian menunjukkan kesempurnaan karunia dan pemberian-Nya kepada semua makhluk-Nya. Juga menunjukkan kesempurnaan hikmah, pengetahuan, dan sifat-sifat-Nya yang lain.
Subhanallah al-Adzim berarti Allah pemilik keagungan, kebesaran, keperkasaan, kekuasaan. Tidak ada sesuatu yang kekuasaan, kemampuan, kebijaksanaan, pengetahuan yang lebih agung daripada Allah. Dia maka agung dengan Dzat dan sifat-sifat-Nya.
Dua kalimat zikir di atas mengandung maqam raja' (pengharapan) dan khauf (Takut). Raja' terdapat pada sifat pujian yang berupa sanjungan baik atas apa yang Dia perbuat dan sifat-sifat kesempurnaan dan kemuliaan yang disandang-Nya. Sedangkan khauf diperoleh dari makna keagungan, kebesaran, keperkasaan, kekuasaan. Wallahu Ta'ala A'lam.
Penutup
Wahai saudaraku, sesudah mengetahui besarnya pahala dan makna yang terkandung dari dua kalimat zikir ini maka hendaknya kita senantiasa merutinkannya. kita senantiasa membacanya dalam keseharian kita. Karena zikir ini tidak banyak menyita waktu dan tenaga kita. Tidak pula kita harus berkeringat dan mengeluarkan harta yang banyak untuk mengamalkannya.
Subhaanallaahi Wa Bihamdihi Subhaanallaahil 'Adzim akan memberatkan timbangan kebaikan kita diakhirat sehingga akan termasuk orang yang bahagia. "Barang siapa yang berat timbangan (kebaikan) nya, maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan." (QS. Al-Mukminun: 102)
"Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan) nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan." (QS. Al-Qaari'ah: 6-7)
Subhaanallaahi Wa Bihamdihi Subhaanallaahil 'Adzim akan menyebabkan kita mendapatkan kecintaan Allah. Siapa yang dicintai oleh Allah, maka Allah akan menjaganya dan memberi petunjuk kepada anggota tubuhnya untuk berbuat yang mendatangkan ridha-Nya dan menghindari perkara-perkara yang bisa mendatangkan murka-Nya. Siapa yang dicintai oleh Allah, maka dihapuskan kesalahannya, diampuni dosanya, dan diberi keberkahan dalam hidupnya. Wallahu Ta'ala A'lam. [PurWD/voa-islam.com]

Meninggalkan Hal Tak Manfaat


Di antara kebaikan Islam seseorang ialah ia meninggalkan hal-hal yang tidak berguna
Meninggalkan Hal Tak Manfaat
MERDEKA.COM
Ilusttrasi

















Rep: Admin Hidcom

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم : “مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ، تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ.” رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ، وَقَالَ: حَسَنٌ.
Dari Abu Hurairah Radiyallahu anhu ia berkata: Rasulullah Sallallahu Alayhi Wasallam bersabda: “Di antara kebaikan Islam seseorang ialah ia meninggalkan hal-hal yang tidak berguna baginya.” (HR. at Tirmidzi, dan ia berkata: “Hadits ini adalah hasan”)
Editor: Cholis Akbar

Larangan Sombong di Muka Bumi


Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebesar dzarrah dari kesombongan
Larangan Sombong di Muka Bumi

















Rep: Admin Hidcom

Dari Abdullah Bin Mas’ud radhiayallahu’anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
وعن عبداللّه بن مسعودرضى اللّه عنه عن النّبىّ صلّى اللّه عليه وسلّم قال : لايدخل الجنّةمن كان فى قلبه مثقال ذرّةمن كبر ، فقال رجل : انّ الرّجل يحبّ ان يكون ثوبه حسناونعله حسنة ، قال : انّ اللّه جميل يحبّ الجمال . الكبر : بطرالحقّ وغمط النّاس (رواه مسلم)٠
 “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebesar dzarrah dari kesombongan.” Salah seorang shahabat lantas bertanya: “Sesungguhnya seseorang senang jika bajunya bagus dan sandalnya baik?” Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Dzat yang Maha Indah dan senang dengan keindahan, Al-Kibru (sombong) adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”(HR Muslim dalam Shahih-nya)
Editor: Cholis Akbar

Enggan Menjamu Tamu, Tidak Ada Kabaikan


Enggan Menjamu Tamu, Tidak Ada Kabaikan

Rep: Sholah Salim


قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لَا خَيْرَ فِيْمَنْ لَا يَضِيْفُ-أحمد و إبن حبان 
Rasulullah Shallalahu Alaihi Wasallam bersabda,”Tidak ada kebaikan bagi siapa yang tidak menjamu tamu.” (Riwayat Ahmad dan Ibnu Hibban, dihasankan oleh Al Hafidz As Suyuthi)
Al Munawi menyatakan bahwa tidak adanya kebaikan bagi seseorang yang tidak memberikan jamuan kepada tamu yang mendatanginya. Hal itu berlaku atas tuan rumah yang mampu untuk memberikan hidangan serta ia juga mampu untuk memberikan nafkah wajib untuk mereka yang berada di bawah tanggungannya. (lihat, Faidh Al Qadir, 6/426)*
Editor: Thoriq

Sultan Salim I Penyelamat Daulah Utsmaniyah


Safawiyah berhaluan Syiah bekerjasama dengan kerajaan Kristen dan Alfonso de Albuquerque pemimpin pasukan Portugal ingin menghilangkan Daulah Utsmaniyah dari peta dunia
Sultan Salim I Penyelamat Daulah Utsmaniyah
ilustrasi: Pasukan Sultan Salim I















Rep: Admin HidcomOleh: Zainal Mutaqin

KAGUM dan rindu,  itulah perasaan yang saya ketika membaca sekilas sembilan  tahun kepemimpinan seorang Sultan Salim I, cucu penakluk Konstatinopel Muhammad Al-Fatih yang menghabiskan waktunya di atas kuda mengembalikan Negara-Negara Islam yang direbut Pasukan Salib dan dari pasukan Syiah Safawiyah dikala kepemimpinan bapaknya Sultan Bayazid  sedang lemah.

Keadaan genting ini diperparah oleh kerjasama Daulah Safawiyah yang berhaluan Syiah yang dipimpin Ismail as Safawi  dengan kerajaan Kristen dan  Alfonso de Albuquerque pemimpin pasukan laut Portugal    untuk menghilangkan  Daulah Utsmaniyah dari peta dunia setelah jatuhnya Islam di Andalusia  dan rencana jahat mereka untuk menggali makam Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam.
Tahun 913 H/1507 M Ismail As Safawi menginvasi kerajaan kecil Dzil Qadariyah yang ada dibawah Turki Utsmani karena ketamakannya  dan dendam karena   lamarannya untuk putri Raja Dzil Qadariyah Bozkort Beik ditolak. Di kota itu Ia menghancurkan kuburan ulama-ulama Sunni dan membakar sisa tulang belulangnya.
Kemarahan Salim I memuncak ketika mengetahui kejahatan Ismail As Safawi itu. Ia menyiapkan 100.000 tentara yang langsung ia pimpin sendiri ditemani anaknya yang masih berusia 12 tahun Sulaiman Al-Qanuni menuju ibu kota Daulah safawiyah Tabriz, meskipun tanpa restu dari bapaknya Sultan Bayazid dan penasihat istana.
Penyebabnya kehawatiran Sultan Bayazid akan jarak yang  jauh, matahari yang terik, dan musuh yang penuh tipu muslihat.  Namun Sultan Salim muda  tidak bergeming, ia berangkat dengan pasukannya.
Mengetahui Pasukan Turki Utsmani  telah bergerak dengan 100.000 tentaranya, Ismail As Safawi –seperti karakter penganut Safawi licik– membakar pepohonan yang menyediakan bahan makanan  yang tumbuh di sepanjang jalan yang dilalui pasukan Sultan Salim I agar pasukan muslimin kelelahan dan kelaparan sebelum perang. Mereka  lalu melakukan manuver-manuver lainnya dari berbagai arah mengulur waktu untuk menghabiskan energi pasukan Islam.
Maka tepat pada tanggal  2 Rajab 920 H/23 Agustus 1514 M. Sekali lagi ingat baik-baik tanggal dan tahun  ini. Inilah peristiwa Perang Chaldiran (Battle of Chaldiran), peperangan pasukan Muslimin dengan pasukan Syiah Safawiyah.
Peperangan yang tidak seimbang ini demenangi oleh pasukan Sultan Salim I, pasukan Syiah Safawiyah terdesak, tercerai-berai, dan melarikan diri, termasuk  pemimpin mereka Ismail as Safawi, setelah kaki dan tangannya terluka ia mengganti baju dengan pakaian tentaranya untuk mengelabui pasukan muslim sehingga selamat dari kematian.
Dengan lantunan takbir, lembah Chaldiran menjadi saksi sujud syukur Sultan Salim I atas pertolongan Allah Subhanahu Wata’ala.
Belum basah darah yang menempel di pakaian pasukan Muslimin , mereka melanjutkan perjalanan ke Kota Tabriz yang merupakan Ibu Kota Daulah Safawiyah dimana Ismail as Safawi melarikan diri kesana. Begitulah karakter Sultan Salim I yang tak kenal kata “lelah” dalam kamus hidupnya.

Amanah memimpin kaum Muslimin selama 9 tahun ia habiskan diatas kuda menyelamatkan Negara-Negara Islam yang terjajah baik oleh Syiah atau pasukan Kristen dengan membawa putra mahkota yang masih belia usia 12 tahun yang nantinya mewarisi tahta selama 46 tahun dengan segudang jasanya untuk umat Islam.
Mengetahui kedatangan pasukan Sultan Salim I, Ismail As Safawi melarikan diri karena takut kepalanya dipenggal meninggalkan istri- istri dan anak-anaknya di belakangnya. Bersembunyi di sebuah kota bernama Khoy.
Tepat hari Jum’at, 8 Tajab tahun 920 H, pasukan Muslimin menguasai Kota Tabriz. Adzan dilantunkan dan sholat Jum’at pertama kali dilaksanakan setelah Syiah menghapus ritual wajib itu dari masyarakat Sunni di sana.
Setelah itu beliau tidak pernah istirahat, selalu ada di atas kudanya selama sembilan tahun dari satu perang ke perang lainnya  untuk menyatuka kembali negeri- negeri Islam yang tercerai berai dan dari rencana busuk kaum Safawiyah yang bekerja sama dengan pasukan Kristen Eropa untuk menggali dan memindahkan makam Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam.  Tidak heran jika  sejarawan menyebutnya sebagai penyelamat Daulah Utsmaniyah.

Allah menghendaki lain, ketika tubuh sang pemberani itu dihinggapi penyakit disebabkan kelelahan karena terlalu banyak melakukan perjalanan, jihad  dan  terik matahari. Sudah saatnya ia turun dari kudanya dan mereguk manisnya balasan dari yang maha kuasa atas perjuangannya.
Maka tepat tanggal 9 Syawal 926 H, penyelamat kubur Rasulullah Shalallahu ‘Alahi Wassalam ini menemui Sang Khaliq dengan menghadiahkan anaknya Sulaiman Al-Qanuni untuk umat Islam yang telah ia didik dalam perjalanan yang panjang di atas punggung kudanya, tentang betapa pentingnya Islam dan Muslimin.
Semoga Allah Subhanahu Wata’ala senantiasa merahmatimu wahai Sultan Salim I. Semoga kisahmua menjadi teladan bagi kita generasi yang  lemah ini. Amin.*
Penulis anggota MIUMI Batam. Sumber sebagian ringkasan Kisah Sultan Salim I 100, Min Udzamil Islam
Editor: Cholis Akbar

Tali Terakhir Bernama Shalat


Untuk shalat, kaya, miskin, sakit, tetap melekat kewajiban untuk dilaksanakan. Tidak kuat berdiri maka bisa duduk, tidak kuat duduk, dengan cara berbaring, dan terakhir dengan hati, ini menunjukkan tidak ada peluang untuk meninggalkan shalat
Tali Terakhir Bernama Shalat
DAILYMAIL.CO.UK
ilustrasi: Anggota Al-Qassam melaksanakan shalat sebelum parade















Rep: Admin HidcomOleh:  Mohammad Ramli

Dari Abu Umamah Al Bahili, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيُنْقَضَنَّ عُرَى الإِسْلاَمِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِى تَلِيهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضاً الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلاَةُ
Tali ikatan Islam akan putus seutas demi seutas. Setiap kali terputus, manusia bergantung pada tali berikutnya. Yang paling awal terputus adalah hukumnya, dan yang terakhir adalah shalat.” (HR. Ahmad 5: 251)
Hadits ini jelas menyatakan bahwa ketika tali Islam yang pertama sudah putus dalam diri seseorang, yaitu ia tidak berhukum pada hukum Islam, ia masih bisa disebut Islam. Di sini Nabi tidak mengatakan bahwa ketika tali pertama putus, maka kafirlah ia. Bahkan masih ada tali-tali yang lain hingga yang terakhir adalah shalatnya.
Dari Zaid bin Tsabit, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَوَّلُ مَا يَرْفَعُ مِنَ النَّاسِ الأَمَانَةُ وَ آخِرُ مَا يَبْقَى مِنْ دِيْنِهِمْ الصَّلاَةُ
“Yang pertama kali diangkat dari diri seseorang adalah amanat dan yang terakhir tersisa adalah shalat.” (HR. Al Hakim At Tirmidzi).
Jika dikaji lebih lanjut tentang syariat Islam; yaitu shalat, zakat, puasa, naik dan naik haji. Maka syariat shallat-lah yang tidak memiliki celah untuk bisa ditinggalkan atau tidak dilaksanakan.
Zakat, jika tidak mampu maka gugur kewajibannya, bahkan dalam keadaan tertentu dia menjadi mustahik.
Berikut kami kutip pendapat yang diambil oleh jumhur ulama.
Orang yang wajib membayar zakat fitrah adalah mereka yang memiliki kelebihan makanan di luar kebutuhannya ketika hari raya, sekalipun dia tidak memiliki kelebihan harta lainnya. Ini adalah pendapat mayoritas ulama, diantaranya Az-Zuhri, As-Sya’bi, Ibnu Sirrin, Ibnul Mubarok, Imam As-Syafii, Imam Ahmad dan yang lainnya. (Ma’alim As-Sunan karya Al-Khithabi, 2/49).
Selanjutnya Al-Khithabi mengutip keterangan Imam As-Syafii, yang menjelaskan;
“Apabila makanan seseorang melebihi kebutuhan dirinya dan keluarganya, seukuran untuk membayar zakat fitrah, maka dia wajib mengeluarkan zakatnya.” (dalam Ma’alim As-Sunankarya Al-Khithabi, 2/49).
Namun jika seandainya, syarat atau kelebihan makanan betul-betul tidak ada, maka kewajiban ini bisa gugur.
Puasa, jika sedang safar atau sakit maka diganti dengan hari lain, atau jika tidak sanggup (menggantinya dengan puasa) maka rukhsyah berikutnya yang Allah berikan adalah membayar fidyah (memeberi makan kepada fakir miskin)
“..Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu), memberi makan seorang miskin” (Al-Baqarah:184)
Hajisyari’at haji merupakan rukun Islam yang ke-5. Maka kesempurnaan Iman akan terasa jika sudah pernah menjadi tamu Allah di rumah-Nya (Baitullah). Tentunya syarat dan rukun harus terpenuhi sehingga ia ibadah haji yang ia lakukan menjadi haji mabrur.
Namun kewajiban haji hanya bisa dilaksanakan oleh mereka yang memiliki kemampuan, berarti yang tidak mampu melakukannya baik secara materi maupun hal lain yang dipersyaratkan sesuai syariat Islam maka dia tidaklah berdosa.
وَتَحُجَّالْبَيْتَإِنِاسْتَطَعْتَإِلَيْهِسَبِيْلاً
“ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “ (HR. Muslim)
Hadits diatas sangat populer, terdapat dalam kitab Hadits Arbai’n Imam Nawai.
Dari penjelasan diatas jika kita perhatikan satu persatu, Puasa dapat diganti dengang ibadah selain puasa (fidyah), Zakat bisa gugur jika tidak ada kelebihan, kewajiban haji hanya yang memiliki kemampuan.
Tapi tidak untuk shalat, kaya, miskin, sakit, tetap melekat kewajiban untuk dilaksanakan. Tidak kuat berdiri maka bisa duduk, tidak kuat duduk, dengan cara berbaring, dan terakhir dengan hati, ini menunjukkan tidak ada peluang untuk meninggalkan shalat, dan shalat tidak dapat tergantikan dengan ibadah yang lain.Sehingga saat utas demi utas tali Allah cabut maka yang terkahir tempat bergantung adalah shalatnya.
صَلِّقائماً،فإِنلمتستطعفقاعداً،فإِنلمتستطعفعلىجَنب
“Shalatlah sambil berdiri, jika kamu tidak mampu sambil duduk, dan jika kamu tidak mampu, sambil berbaring miring.” (HR. Bukhari 1117).
Maka tunggu apalagi jangan pernah kita tinggalkan shalat terutama shalat berjamaah bagi kamu lelaki.*
Pendidik Islamic Boarding School Batam
Editor: Cholis Akbar