Oleh: Alwi Alatas
Sambungan artikel PERTAMA
DEMIKIAN pula generasi awal pasukan khusus
Utsmani, yaitu Yanisari, diseleksi, didoakan, dan diberi seragam antara
lain oleh Timurtash Dede. Timurtash Dede merupakan keturunan Haji
Bektas-i Veli, seorang yang dipercayai sebagai waliyullah dan hidup
kurang lebih sejaman dengan Utsman Ghazi.
Belakangan muncul tarikat Bektasiyah yang
memiliki keyakinan menyimpang dan meninggalkan solat serta puasa, tetapi
menurut Akgunduz (2011: 63-64) tarekat ini serta penyimpangan yang
dilakukannya tidak memiliki kaitan dengan Haji Bektas-i Vali. Hal-hal di
atas merupakan beberapa contoh penghormatan para pemimpin Utsmani
terhadap agamanya serta hubungan mereka yang baik dengan para ulama.
Syeikh Edebali sendiri, mertua Sultan
Utsman, merupakan seorang ulama sekaligus sufi dari tarekat vefa’iyye
(wafa’iyah) yang merupakan cabang dari tarekat Syadziliyah. Ia mendalami
fiqh Hanafi dan sempat menuntut ilmu di Damaskus, sebelum kembali ke
kawasan Asia Minor dan membuka zawiyah di Bilecik. Utsman sering
berkonsultasi dengannya dan menjadikannya sebagai qadi dan mufti pertama
di pemerintahannya.
Puteri Edebali yang dinikahi oleh Utsman
disebut dalam sumber-sumber Sejarah sebagai Mal Hatun, atau Rabi’a Bala
Hatun. Namun ia bukan satu-satunya perempuan yang dinikahi oleh Utsman.
Malah para sultan selepas Utsman, menurut catatan Sejarah yang lebih
kuat, bukanlah dari jalur keturunan puteri Edebali ini. Istri Utsman
yang melahirkan Orhan dan para sultan Utsmani berikutnya adalah puteri
dari seorang emir Bani Saljuk bernama Omar Bey (Akgunduz, 2011: 45).
Dengan kata lain, pohon besar (kesultanan) yang dilihat Utsman di dalam
mimpinya itu sebenarnya bukanlah buah pernikahan antara dirinya dengan
puteri sang Syeikh Sufi.
Walaupun begitu, mimpi Utsman itu
tampaknya memberikan gambaran lain yang lebih bersifat simbolik. Pohon
besar itu sebenarnya merupakan hasil ‘pernikahan’ (baca: hubungan baik
dan kerja sama) antara umara (pemimpin) dan ulama, dalam hal ini antara
Utsman Ghazi dan Syeikh Edebali, dan diikuti oleh generasi setelahnya.
Daulah Utsmaniyah dan kiprah peradabannya yang besar dan berumur panjang
itu adalah representasi dari pernikahan ulama dan umara, juga
pernikahan antara tasawuf dan kemiliteran.
Jejak-jejak kerjasama yang kuat di antara
kedua belah pihak dapat dilihat pada banyak bagian sejarah Utsmani,
sebagaimana telah dicontohkan sebelum ini. Pernikahan itu langgeng dan
memberikan berkah karena para umara-nya sungguh-sungguh dalam Islam dan
perjuangannya dan para ulamanya zahid terhadap dunia serta jujur kepada
Rabbnya dalam menunaikan amanah ilmunya.
Kejujuran dan kesungguhan kerja sama itu
mungkin masih dapat kita lihat perwujudannya yang sederhana pada sebuah
marmer putih di sebuah tempat di Sogut, pusat pemerintahan Utsman yang
awal sekali. Pada marmer putih itu terpahat nasihat Syeikh Edebali
kepada Utsman Ghazi, sebuah nasihat tentang kelapangan dada serta
tanggung jawab yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin:
Wahai anakku! Sekarang engkau adalah raja
Mulai sekarang, kemarahan adalah bagi kami; bagimu (tugasmu, pen.) rida!
Bagi kami tersinggung; bagimu menghibur!
Bagi kami menuduh; bagimu bersabar!
Bagi kami ketidakberdayaan dan kesalahan; bagimu kelapangan dada!
Bagi kami pertengkaran; bagimu keadilan!
Bagi kami iri hati, desas-desus, mengumpat; bagimu pengampunan!
Wahai anakku!
Mulai sekarang, bagi kami adalah memecah, bagimu menyatukan!
Bagi kami kemalasan; bagimu peringatan dan dorongan!
Wahai anakku!
Bersabarlah, tak akan mekar bunga sebelum waktunya. Jangan pernah lupa ini: Biarkan manusia berkembang, dan negara juga akan berkembang!
Wahai anakku!
Bebanmu berat, tugasmu sukar, kekuatanmu tergantung di atas sehelai rambut! Semoga Allah menjadi penolongmu! (http://en.wikipedia.org/wiki/Sheikh_Edebali).*/Kuala Lumpur, 29 Jumadil Awwal 1436/ 20 Maret 2015
Mulai sekarang, kemarahan adalah bagi kami; bagimu (tugasmu, pen.) rida!
Bagi kami tersinggung; bagimu menghibur!
Bagi kami menuduh; bagimu bersabar!
Bagi kami ketidakberdayaan dan kesalahan; bagimu kelapangan dada!
Bagi kami pertengkaran; bagimu keadilan!
Bagi kami iri hati, desas-desus, mengumpat; bagimu pengampunan!
Wahai anakku!
Mulai sekarang, bagi kami adalah memecah, bagimu menyatukan!
Bagi kami kemalasan; bagimu peringatan dan dorongan!
Wahai anakku!
Bersabarlah, tak akan mekar bunga sebelum waktunya. Jangan pernah lupa ini: Biarkan manusia berkembang, dan negara juga akan berkembang!
Wahai anakku!
Bebanmu berat, tugasmu sukar, kekuatanmu tergantung di atas sehelai rambut! Semoga Allah menjadi penolongmu! (http://en.wikipedia.org/wiki/Sheikh_Edebali).*/Kuala Lumpur, 29 Jumadil Awwal 1436/ 20 Maret 2015
Alwi Alatas adalah penulis buku-buku sejarah Islam
Daftar Pustaka
Akgunduz, Ahmed dan Said Ozturk. Ottoman History: Misperceptions and Truths. Rotterdam: IUR Press. 2011.
Kia, Mehrdad. The Ottoman Empire. Westport: Greenwood Press. 2008.
Lane-Poole, Stanley. Turkey, 3rd edition. London: T. Fisher Unwin. 1941.
Maksudoglu, Mehmet. Ottoman History: Based Mainly on Ottoman Sources. Tidak dipublikasikan. 1993.
Rosenwein, Barbara H. Reading the Middle Ages: Sources from Europe, Byzantium, and the Islamic World, second edition. North York: University of Toronto Press. 2014.
Al-Sallabi, ‘Ali Muhammad. Al-Sulthan Muhammad al-Fatih wa ‘Awamil al-Nuhudh fi ‘Ashrihi. Iskandariyah: Dar al-Iman. 2001.
http://en.wikipedia.org/wiki/Sheikh_Edebali
Kia, Mehrdad. The Ottoman Empire. Westport: Greenwood Press. 2008.
Lane-Poole, Stanley. Turkey, 3rd edition. London: T. Fisher Unwin. 1941.
Maksudoglu, Mehmet. Ottoman History: Based Mainly on Ottoman Sources. Tidak dipublikasikan. 1993.
Rosenwein, Barbara H. Reading the Middle Ages: Sources from Europe, Byzantium, and the Islamic World, second edition. North York: University of Toronto Press. 2014.
Al-Sallabi, ‘Ali Muhammad. Al-Sulthan Muhammad al-Fatih wa ‘Awamil al-Nuhudh fi ‘Ashrihi. Iskandariyah: Dar al-Iman. 2001.
http://en.wikipedia.org/wiki/Sheikh_Edebali
Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar